Published On: Wed, Jun 26th, 2013

Fahri Serang Menkumham Di Paripurna

fahri-century

Jakarta, Suara Asia.- Kehendak hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Pepatah lama ini erat kaitannya dengan kehendak Ketua Pansus RUU Tentang Ormas DPR RI, A. Malik Haramain yang ingin meloloskan RUU Ormas untuk pengambilan keputusan menjadi Undang-Undang (UU) dalam Rapat Paripurna DPR RI, Selasa (25/6/2013).

Banyak itikad dan kecemasan yang bersumber dari bisikan Pemerintah yang menuntut pembuatan institusi-institusi yang represip atau membuat regulasi yang begitu banyak memberikan diskresi kepada Pemerintah. “Saya khawatir ini muncul karena Pemerintah atau Negara dalam pengertian luas, kewalahan dalam mengahadapi kebebasan publik, lalu gagal mengatur,” kata anggota Komisi III DPR RI, Fahri Hamzah menanggapi pidato A. Malik Haramain.

Kegagalan mengatur akhirnya menimbulkan diskresi dengan tindakan berlebihan, gagal memberikan pluralisme. Kekuatan-kekuatan ekstra judicial dalam memberantas korupsi hingga institusi ekstra judicial gagal memberantas narkoba. “Sekarang saya merasa bahwa ada kebingungan dalam mengahadapi kebebasan di tingkat ormas pada umumnya,” ulas anggota F-PKS dapil Provinsi Nusa Tenggara Barat ini.

Pemerintah dituding mengintroduksi regulasi yang memberi refleksi, mereferensi dihadapan masyarakat atau kegiatan individual untuk menghilangkan kecemasan. Dalam kasus ini Fahri meberi contoh Menkumham, tentang tidak adanya aturan penyadapan dan direduksi melalui SOP-SOP berbagai Lembaga tersebut. Sejak kapan mulai disadap, apa yang boleh disadap. Apa yang boleh dimunculkan dihadapan publik dan persidangan, belum ada aturan yang mengaturnya, terjang pria yang dipanggil Bomb Man karena pernyataannya sering membuat panas telinga sumber yang dimaksud.

“Itu tidak ada aturannya. Padahal ketika Pemerintah mengajukan RDP tentang RUU Penyadapan. Oleh Mahkamah Konstitusi penyadapan harus diatur oleh setingkat UU. Menkumham dan koleganya diam saja, mebiarkan proses penyadapan merajalela membahayakan kebebasan sipil dan individual,” terjang Fahri dalam Rapat Paripurna yang dihadiri oleh  Menkumham, Amir Syamsuddin, Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta.

Serangan kalimat Bomb Man kini mengarah ke Presiden. Menurutnya, seharusnya Presiden membuat Perpu tentang Penyadapan hari ini juga karena didasarkan oleh pengaturan tentang penyadapan itu harus diatur dengan setingkat UU . “Tapi karena ikut-ikutan dan nebeng dalam aksi pemberantasan korupsi, diam saja, bahkan cenderung mengintrodusir kalimat-kalimat yang bersifat destruktif,” kritiknya.

Atas kecederungan ini Pimpinan, kata Fahri melanjutkan statemennya, dia mengaku takut membaca RUU Ormas yang meminta persetujuan DPR untuk disahkan menjadi UU yang mana menurutnya banyak anomali dalam UU Ormas tersebut. “Bagaimana kita mau mendirikan ormas asing yang mencakup lingkup dan operasionalnya harus orang asing,” gugat dia lagi.

Menteri Hukum dan Ham (Menkumham) dianggap diam. Ada anomali di dalam UU Ormas namun disatu sisi bagaimana bisa mendirikan ormas asing yang menyebabkan nanti seluruh lingkup dan operasionalnya hak orang asing dinegeri ini menjadi sama sehingga keberadaan dan operasionalnya dimanfaatkan. Karena itu, “saya mengusulkan agar kita memiliki mekanisme yang lebih tertib bagaimana mengawasi untuk diperiksa secara bersama,” harapnya.

Fahri mengingatkan agar jangan ada penyesalan disuatu hari karena tiba-tiba merajalela ormas asing dan negara bingung tidak bisa menghentikan didalam negara yang muncul monster-monster yang tidak terkendali. “Negara sebagai pembangun sistem hancur!. Coba lihat aspek penegakkan hukum kacau!. Kantor Polisi dibakar!, Kantor Kejaksaan dibakar!, Pengadilan dibakar!. Karena itu secara pribadi saya mencemaskan keberlangsungan pembahasan tingkat II Pembahasan RUU ini,” katanya mengingatkan.

Rapat akhirnya diskors selama dua jam untuk dilakukan loby tentang pengambilan keputusan meloloskan RUU Ormas menjadi UU, Rapat Paripurna kembali dilanjutkan, namun gagal mengambil keputusan dan akan dibahas di Paripurna selanjutnya. (Zainuddin)

 

About the Author

admin

-

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*

Arsip Berita

Kategori